SASTRA SULAWESI SELATAN

RAJA LANGIT, RAJA BUMI, & PUTRI BULAN

Kisah dari Sulawesi Selatan

Kisah ini mengajarkan dua hal: Pertama, bahwa setiap peperangan yang dikobarkan oleh rasa iri dan benci hanya akan menghancurkan semua yang ada. Kedua, peperangan hanya akan meninggalkan rasa sedih yang mendalam, terutama mereka yang ditinggal sanak keluarga akibat perang yang jahat itu. Yang tersisa dari permusuhan hanyalah senandung sedih dan penyesalan.

Dahulu kala ada dua kerajaan yang bermusuhan. Kerajaan Bumi dan Kerajaan Langit namanya. Kerajaan Langit adalah sebuah kerajaan yang makmur. Masyarakatnya hidup dengan aman dan damai tanpa ada kekurangan. Hal inilah yang menerbitkan kecemburuan bagi raja Kerajaan Bumi.

Raja dari Kerajaan Langit punya tiga orang putra laki-laki. Ia ingin sekali mendapatkan seorang anak perempuan. Kerajaan Bumi pun menunggu kelahiran itu, karena menurut ramalan, Kerajaan Langit bisa ditaklukkan apabila dia sudah mempunyai seorang anak perempuan.

Maharaja Langit betul-betul menginginkan seorang putri. Suatu ketika dikumpulkan semua alim ulama, menteri-menteri, penasehat dan hulubalangnya serta seluruh pembesar istana. Baginda meminta pendapat mereka tentang keinginan yang sudah lama terpendam itu.

Seorang cerdik pandai yang bijaksana berjalan menghadap raja. Ia bersujud dan memberi hormat dan berkata. “Ampunkan hamba Tuanku, atas keberanian hamba meramalkan sesuatu tentang Tuanku dan kerajaan ini.”

Ia meminta Raja mengulurkan tangannya untuk dibaca. Keningnya berkerut karena gundah. Melihat itu Raja bertanya. “Ada apa? Apakah kau melihat sesuatu dari tanganku? Apakah aku akan bisa memiliki seorang putri?”

Cerdik pandai itu kembali bersujud dan memberi salam. “Maafkan hamba Baginda. Melihat garis tangan Tuanku, sebentar lagi Tuanku akan memiliki seorang anak perempuan sebagaimana yang sudah lama diidam-idamkan. Tuanku akan memiliki seorang putri yang cantik jelita yang tidak bisa ditandingi oleh siapa pun juga.”

Raja sangat senang mendengarnya. “Lanjutkanlah…,” perintah Raja.
Si cerdik pandai diam sesaat. Wajahnya terlihat kelam.
“Apa lagi yang ingin kau katakan wahai cerdik pandai yang hebat? Katakanlah sekarang juga, di hadapan semua orang agar mereka juga mendengar kebahagiaan apa lagi yang akan aku peroleh.”
“Ampunkan hamba Baginda. Menurut garis tangan yang hamba baca… Ampun beribu ampun Baginda kalau hamba salah. Kelahiran Tuan Putri ini akan membuat petaka bagi kerajaan ini.”
Semua orang terkejut mendengarnya. Juga raja dan permaisurinya.
“Maafkan kalau hamba salah membaca. Suatu ketika nanti keajaan ini akan diserang oleh Kerajaan Bumi dengan kekuatan yang luar biasa hebat. Mereka berniat mencuri Tuan Putri untuk dinikahi. Dan Kerajaan Langit, kerajaan yang kita cintai sepenuh-penuhnya ini akan pula binasa tanpa ampun.”

Raja tercenung mendengarnya. Cerdik pandai tidak bisa meramalkan kapan serangan itu akan terjadi. Raja menjadi bingung. Anak perempuan sudah lama diinginkan dan sebentar lagi akan lahir, tetapi jika ia lahir maka kerajaan ini akan hancur.

Seorang penasehat kemudian memberikan usul. “Kita biarkan Tuan Putri lahir. Kita semua tahu kalau Baginda sudah lama menginginkan seorang anak perempuan. Sambil menunggu kelahiran Tuan Putri kita menyiapkan tempat persembunyian yang paling aman untuknya, sehingga kelak, kalau pun raja dari Kerajaan Bumi berniat menyerang kerajaan ini ia tak bisa menemukan Tuan Putri.”
Raja pun menyetujui usul itu.

Beberapa waktu kemudian permaisuri pun hamil. Putri cantik jelita itu kemudian lahir ke dunia dengan selamat. Seluruh keluarga istana dan seluruh warga menyambutnya sukacita.
Orang-orang merayakan kelahiran itu dengan rasa syukur. Di mana-mana diadakan keramaian. Ada pertandingan dan permainan-permainan, kesenian rakyat pun digelar. Mereka sungguh-sungguh gembira menyambut kelahiran Tuan Putri yang cantik jelita itu.

Raja kemudian menyerahkan sang putri kepada seorang inang terbaik di kerajaan. Setiap waktu luang Baginda akan memanggil inang pengasuh untuk membawa sang putri untuk ditimang-timang. Raja betul-betul memperhatikan perkembangan bayinya itu. Ia amat mencintai putrinya yang tumbuh sehat dan tanpa cacat itu.
Waktu pun berlalu, berangsur-angsur sang putri mulai dewasa. Ketika itulah Baginda Raja teringat akan ramalan cerdik pandainya dulu, bahwa sewaktu-waktu kerajaannya akan diserang oleh Kerajaan Bumi. Ia pun menyampaikan kegelisahannya kepada permaisuri. Tak ada pilihan, Tuan Putri harus diselamatkan. Ia harus disembunyikan di sebuah tempat yang tidak diketahui siapa pun juga. Tempat yang paling aman untuk itu hanyalah Bulan. Tuan Putri akan diungsikan ke Bulan sampai keadaan kembali aman.
Baginda membuatkan sebuah istana yang indah di Bulan untuk didiami sang putri. Pada hari yang ditentukan berangkatlah Tuan Putri menuju Bulan bersama inang pengasuhnya. Keberangkatan itu diiringi tangis sedih penghuni kerajaan.

“Kembalilah ketika keadaan sudah aman anakku…,” bisik permaisuri sambil memeluk putrinya.
Tuan Putri memeluk ayah dan ibunya bergantian. Hatinya sedih sekali berpisah dengan mereka. Tapi bagaimana pun ia harus berangkat. Ia tak ingin keberadaannya akan membuat istana dan seluruh kerajaan celaka. Mengingat itu bertambah-tambahlah kesedihannya.

Sejak saat itu Tuan Putri tinggal di istana kecilnya yang berada di Bulan.
Sementara itu Kerajaan Bumi sedang mempersiapkan sebuah pasukan besar untuk menggempur Kerajaan Langit. Kerajaan Bumi begitu menginginkan Putri Kerajaan Langit dijadikan istri. Ia tidak tahu kalau saat ini Putri Jelita itu berada di tempat persembunyian, yaitu di Istana Bulan yang indah.
Mereka mengadakan olah kanuragan setiap hari. Seluruh perlengkapan perperangan disiapkan. Mereka ingin menghabisi Kerajaan Langit sampai tandas. Mereka sadar Raja Langit tidak akan begitu saja mau menyerahkan putrinya kepada Raja Bumi. Untuk inilah pasukan disiapkan agar tidak ada yang bisa meghalangi keinginan mereka.

Dengan semangat yang menyala-nyala pasukan Kerajaan Bumi mulai mengerahkan seluruh kekuatan yang telah disiapkan dengan matang. Pasukan itu dipimpin langsung Maharaja Kerajaan Bumi. Semula serangan-serangan itu dapat ditahan oleh tentara Kerajaan Langit. Karena pasukan Kerajaan Bumi yang banyak dan peralatan perang yang lengkap, tentara-tentara Kerajaan Langit dapat ditaklukan. Mereka menyerbu masuk ke istana. Begitu mengetahui Tuan Putri sudah tak ada, marahlah Raja Bumi. Istana dihancurkan. Semua keluarga dihabisi. Begitu juga dengan Maharaja Langit dan Permaisuri.

Kekejaman pasukan Kerajaan Bumi tak sampai di situ saja. Bangunan yang ada dihancurkan. Tidak satu pun yang bersisa. Tak seorang pun yang bisa selamat dari serbuan mereka. Kerajan Langit hancur lebur tanpa sisa.
Tuan putri yang mendengar kerajaannya hancur menangis sedih, apalagi ketika dia tahu ayah, ibu, dan seluruh penduduknya dibunuh. Kesedihannya sungguh luar biasa. Ingin rasanya ia membalaskan dendam atas kematian ayahandanya tercinta, tapi apa daya dia hanyalah seorang perempuan dan tidak punya kekuatan apa-apa.
Sejak itu Tuan Putri berubah menjadi pemurung. Setiap hari ia hanya melamun dan mengurung diri di kamarnya sambil membuka pintu jendela. Ia sedih melihat kehancuran kerajaannya. Setiap hari ia termenung sambil melihat Bumi dari kejauhan. Inang pengasuh mencoba menghibur Tuan Putri dengan berbagai cara. Tapi sia-sia belaka. Tuan Putri selalu terkenang akan keluarganya. Ia ingin pulang ke Langit sekadar melepaskan kerinduan pada keluarga dan kerajaannya yang telah musnah. Penghiburannya sekarang hanyalah menatap Kerajaan Bumi yang telah menghancurkan istana ayahandanya.

Suatu kali ia melihat ada sekuntum bunga yang mekar di kejauhan sana. Bunga itu terlihat sangat indah, berkilau-kulauan diterpa cahaya. Tuan Putri ingin sekali memiliki bunga yang berada di Bumi itu, tapi ia takut kalau-kalau Maharaja Kerajaan Bumi mengetahui keberadaannya dan bersegera menculiknya.
Keinginannya makin menjadi-jadi untuk memiliki kembang itu. Suatu kali ia meminta izin kepada inang pengasuh untuk turun ke Bumi dan mengambil bunga itu lalu bersegera kembali ke Bulan.
“Jangan turun ke Bumi, Tuan Putri. Apa jadiya nanti jika raja yang jahat itu mengetahui keberadaan Putri? Mereka tidak akan membiarkan Tuan Putri kembali lagi ke sini,” kata inang pengasuh menasehati.
“Tapi aku menginginkan bunga itu, Bi.”

“Bibi tahu keinginan Tuan Putri. Tetapi alangkah baiknya kalau bunga itu dibiarkan saja tumbuh di sana dan kita bisa melihatnya setiap hari dari sini. Apa yang tampak indah itu tak melulu sama ketika kita menyentuhnya.”
Tuan Putri diam saja. Hatinya ragu dan menimbang-nimbang.

“Bagaimana kalau misalnya itu hanya tipuan dari Maharaja Kerajaan Bumi saja untuk mengundang Tuan Putri keluar dari persembunyian? Satu hal lagi, kita tidak akan bisa kembali lagi ke Bulan ini kalau sudah menjejaki kaki di Bumi, tempat di mana banyak banyak darah ditumpahkan itu. Ingat itu, Tuan Putri. Kamu tidak akan bisa lagi ke sini.”

Tapi Tuan Putri tampaknya bersikukuh dengan pendiriannya dan tak peduli dengan nasihat inang pengasuh. Keinginannya untuk memetik bunga yang terlihat indah itu makin menjadi-jadi. Suatu hari, tanpa sepengetahuan inang pengasuh, Tuan Putri turun ke Bumi untuk mengambil bunga itu.
Tapi alangkah terkejutnya dia begitu mengetahui tak ada bunga di sana. Kelopak-kelopak indah dan mekar yang terlihat dari jauh itu hanyalah ampas tebu yang berserakan. Tiba-tiba sang putri merasa telah masuk ke dalam perangkap Maharaja Bumi. Ia takut sekali dan ingin segera kembali pulang ke istananya di Bulan.
Berkali-kali ia mencoba untuk terbang. Tetapi tubuhnya tak kunjung naik-naik juga. Ia sama sekali tak bisa mengawang. Ia ingat nasehat inang pengasuh bahwa dia tidak akan bisa lagi naik ke Bulan jika sudah menjejakkan kaki di Bumi.

Tuan Putri sedih sekali. Menangislah dia keras-keras. Dia merasa sangat takut, sebab sewaktu-waktu orang-orang akan melihatnya dan menyerahkan kepada Maharaja Kerajaan Bumi.

Tuan Putri kemudian memanjat sebatang pohon, dia berharap dari sana dia akan bisa terbang kembali ke Bulan. Tapi sayang, usahanya tak pernah berhasil. Setiap kali ia mencoba, setiap kali itu pula ia terjatuh. Dengan kesedihan yang bertambah-tambah dan ketakutan yang maha hebat ia terus mencoba dan selalu gagal.
Karena larut dengan kesedihan dan penyesalan yang luar biasa, makin lama tubuhnya semakin kecil. Ia tidak menyadari kalau tubuhnya mulai ditumbuhi sayap. Lama-lama sempurnalah ia menjadi seekor burung.
Maka setiap bulan purnama tiba ia akan selalu berbunyi sambil mencoba terbang dari satu dahan ke dahan lainya. Ia selalu teringat akan istana cantiknya di Bulan sana. Demikian juga dengan inang pengasuh, ia selalu duduk di bawah pohon beringin raksasa sambil menunggu kedatangan Tuan Putri. Setiap purnama tiba akan terlihat bayangannya dari Bumi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s