ILMU SASTRA

menulis-sastra

Pengertian ilmu sastra

Ilmu sastra merupakan ilmu yang mempelajari dan meneliti sifat-sifat yang terdapat dalam teks-teks karya sastra secara sistematis sesuai dengan fungsinya dimasyarakat. Selain itu, ilmu sastra merupakan telaah telaah sistematis mengenai sastra dan komunikasi sastra yang tidak menghiraukan batas-batas antarbangsa dan antarkebudayaan.[1]

Objek kajian ilmu sastra

Ilmu sastra merupakan ilmu yang mempelajari teks-teks sastra. Pada dasarnya yang menjadi objek kajian ilmu sastra adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan kesusastraan atau segala sesuatu yang berhubungan dengan teks-teks sastra.

Dalam buku “Sastra Sebagai Sebuah Disiplin Ilmu”, yang menjadi objek kajian ilmu sastra bergantung pada esensi dari ilmu sastra itu sendiri. Jika esensinya sebagai bahasa maka objek kajiannya adalah bahasa. Jika esensiny adalah seni, maka objek kajiannya adalah ilmu-ilmu kesenian. Jika esensinya sebagai komunikasi, maka objek kajiannya adalah ilmu komunikasi. Sedangkan Jika esensinya sebagai simbol, maka objek kajiannya adalah ilmu-ilmu kebudayaan populer .[2] Terlepas dari pendapat di atas, yang menjadi objek kajian ilmu sastra adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan kesusastraan.

Fungsi karya sastra

Sebuah karya sastra berfungsi untuk:[3]

  1. Memberikan kesadaran kepada para pembaca karya sastra tentang kebenaran-kebenaran atau realita kehidupan. Dari karya sastra dapat diperoleh pengetahuan dan pemahaman yang mendalam tentang manusia, dunia, dan kehidupan.
  2. Memberikan hiburan intelektual dan spiritual, kegembiraan, dan kepuasan batin para penikmatnya.
  3. Karya sastra memenuhi kebutuhan manusia terhadap naluri keindahannya.
  4. Memberikan penghayatan yang mendalam terhadap apa yang kita ketahui.
  5. Menjadikan pembacanya manusia berbudaya, yaitu manusia yang responsif terhadap segala sesuatu yang luhur dalam hidupnya.

Sastra sebagai Karya

Karya sastra merupakan sebuah usaha merekam isi jiwa sastrawannya. Rekaman ini menggunakan alat bahasa. Sastra adalah bentuk rekaman dengan bahasa yang akan disampaikan kepada orang lain.[4]

Sastra sebagai seni[5]

Sastra sebagai seni artinya sastra merupakan karya yang dihasilkan oleh sastrawan yang bersifat khayali, mengandung nilai-nilai seni, dan menggunakan bahasa yang khas. Sifat khayali sastra merupakan akibat dari kenyataan bahwa karya sastra dicipta dengan daya kahyal. Penggunaan daya khayal sebagai latar belakang kenyataan atau masalah dimaksudkan agar pembaca dapat menghayati kenyataan-kenyataan dan masalah-masalah di dalam bentuk kongkretnya, dan yang tersentuh oleh masalah-masalah itu tidak hanya pikirannya saja, akan tetapi juga perasaan dan khayalannya.

Nilai-nilai seni dalam sastra merupakan persyaratan yang membedakan karya sastra dengan bukan sastra. Nilai-nilai seni itu merupakan media bagi sastrawan untuk mengungkapkan isi hatinya sejelas-jelasnya, sedalam-dalamnya, dan semaksimal mungkin. Nilai-nilai seni itu meliputi: keutuhan, keseimbangan, keselarasan, dan tekanan yang tepat. Keutuhan adalah bahwa suatu karya sastra harus utuh; artinya, setiap unsur yang ada pada suatu karya sastra menunjang kepada usaha pengungkapan isi hati sastrawan. Keseimbangan adalah bahwa unsur-unsur karya sastra, baik dalam ukuran maupun bobotnya, harus seimbnag dengan fungsinya. Keselarasan berkenaan dengan hubungan satu unsur karya sastra dengan unsur karya sastra yang lain. Unsur yang satu harus menunjang daya ungkap unsur lain, bukan mengganggu atau mengaburkannya. Tekanan yang tepat, artinya unsur atau bagian yang penting harus mendapat penekanan yang lebih daripada unsuur atau bagian yang kurang penting.

Sastra sebagai aktifitas/pengalaman[6]

Pengalaman adalah jawaban yang meliputi kegiatan pikiran atau nalar dan kegiatan perasaan dan khayal dari jiwa manusia ketika kesadarannya bersentuhan dengan sesuatu yang dapat merangsang atau menyentuh kesadaran manusia, baik yang berada dalam dirinya maupun yang berada di luar dirinya (kenyataan). Pikiran-pikiran, perasaan-perasaan, dan khayalan-khayalan yang muncul dalam kesadaran seseorang dapat menjadi sasaran pemikiran, perasaan, dan pengkhayalan orang itu, hingga terwujud pengalaman baru. Peristiwa yang disaksikan oleh pancaindra, gagasan-gagasan orang lain, manusia dan benda-benda menyentuh kesadaran seseorang untuk memberikan jawaban pikiran, perasaan, dan pengkhayalan terhadapnya, sehingga menimbulkan sebuah pengalaman.

Pengalaman dalam peristiwa sastra diungkapkan melalui bahasa. Peristiwa sastra adalah peristiwa yang terdiri dari kegiatan mendengar atau membaca karya-karya sastra, menciptakan karya-karya sastra, dan memberikan kritik terhadap karya-karya sastra. Bahasa merupakan suatu unsur yang sangat penting dalam setiap peristiwa sastra. Peristiwa sastra tidak akan ada tanpa bahasa, karena pikiran, perasaan, dan pengkhayalan yang pernah terjadi di dalam kesadaran sastrawan ditangkap baik dalam kata-kata, irama, lagu, maupun bunyi bahasa.

Pengertian sastra secara etimologi dan terminologi

Kata sastra dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Sanskerta, yaitu kata Sas yang berarti mengarahkan, mengajarkan, memberi petunjuk atau instruksi; dan kata tra yang berarti alat atau sarana. Jadi sastra dapat berarti “alat untuk mengajar, buku petunjuk, buku instruksi atau pengajaran.[7]

Secara etimologi kata susastra berasal dari bahasa Sanskerta, yaitu Su artinya bagus, indah, dan baik; sastra artinya tulisan. Secara istilah, Usman Efendi mengemukakan bahwa “sastra adalah ciptaan manusia dalam bentuk bahasa lisan maupun tulisan yang dapat menimbulkan rasa bagus”.[8]

Sastra adalah ungkapan pribadi manusia berupa pengalaman, pemikiran, perasaan, ide, dan keyakinan dalam bentuk gambaran konkret yang membangkitkan pesona atau keindahan dengan melalui bahasa sebagai media penyampaiannya.[9]

Sastra merupakan karya tulis yang mempunyai keunggulan dalam keorsinilan, keartistikan, serta keindahan dalam isi dan ungkapannya disbanding dengan karya tulis yang lain.[10]

Sastra merupakan karya seni. Sastra mempunyai sifat yang sama dengan karya seni yang lain, seperti seni suara, seni lukis, seni pahat, dan lain-lain. Tujuannya pun sama yaitu untuk membantu manusia menyingkapkan rahasia keadaannya, untuk memberi makna pada eksistensinya, serta untuk membuka jalan kebenaran. Namun yang membedakan sastra dengan seni yang lain, adalah bahwa sastra memiliki aspek bahasa.[11]

Sastra sebagai seni

Sastra sebagai seni susah didefinisikan karena dalam seni banyak unsur kemanusiaan yang masuk didalamnya, khususnya perasaan. Perasaan, semangat, kepercayaan, keyakinan sebagai unsure sastra sulit dibuat batasannya.[12]

Genre/jenis sastra non imajinatif[13]

Sastra non imajinatif adalah bentuk sastra yang mengandung syarat-syarat estetika seni, isinya cenderung mengemukakan fakta, dan menggunakan bahasa yang cenderung denotatif (tunggal arti). Kadar fakta dalam jenis sastra non imajinatif lebih menonjol. Sastrawan bekerja berdasarkan fakta atau kenyataan yang betul-betul ada dan terjadi. Penyajiannya dalam bentuk sastra disertai oleh daya imajinasinya, yang memang menjadi ciri khas karya sastra. Sastrawan menggambarkan fakta dalam tafsiran pribadinya yang bebas, sehingga unsur khayalinya akan mengubah makna faktanya.

Genre/jenis sastra non imajinatif terdiri dari esei, kritik, biografi, otobiografi, sejarah, memoar, catatan harian, dan surat-surat. Esei adalah karangan pendek tentang suatu fakta yang dikupas menurut pandangan pribadi penulisnya.kritik adalah analisis untuk menilai suatu karya sastra. Biografi adalah cerita tentang hidup seseorang yang ditulis oleh orang lain. Otobigrafi adalah biografi yang ditulis oleh dirinya sendiri atau kadang-kadang ditulis oleh orang lain atas penuturan dan pengetahuan tokohnya. Sejarah adalah cerita tentang zaman lampau suatu masyarakat berdasarkan sumber-sumber tertulis maupun tidak tertulis. Memoar adalah riwayat yang ditulis oleh tokohnya sendiri, namun hanya terbatas pada sepenggal pengalaman tokohnya. Catatan harian adalah catatan seseorang tentang dirinya atau lingkungan hidupnya yang ditulis secara teratur.

Genre/jenis sastra imajinatif

Sastra imajinatif adalah bentuk sastra yang mengandung syarat-syarat estetika seni, isinya cenderung khayali atau rekaan, dan menggunakan bahasa yang cenderung konotatif (banyak arti). Dalam sastra imajinatif, sastrawan bersentuhan dengan realitas dan kemudian menafsirkannya, menjelaskannya, menyajikannya, atau bereaksi terhadapnya dalam salah satu karya imajinatif. Sastra imajinatif bertugas untuk menerangkan, menjelaskan, memahami, membuka pandangan baru, dan memberikan makna pada realitas kehidupan. Sastra imajinatif menyempunakan realitas kehidupan agar manusia lebih mengerti dan bersikap yang semestinya terhadap realitas kehidupan.[14]

Genre/jenis sastra imajinatif digolongkan menjadi dua golongan, yakni puisi dan prosa. Puisi menggunakan unsur bahasa semaksimal mungkin baik dalam arti, intensitas, dan irama serta bunyi katanya. Bahasa pada puisi adalah bahasa yang berkembang dan multi-makna. Sedangkan prosa lebih menggunakan bahasa yang mempunyai satu arti seperti yang dimaksudkan oleh pengarangnya. Puisi ini mempunyai beberapa macam bentuk, yakni puisi efik, puisi lirik, dan puisi dramatik. Sedangkan prosa terbagi menjadi dua golongan, yakni fiksi yang terdiri dari cerita pendek (cerpen), roman, novelet, dan novel, dan drama yang terdiri dari drama komedi, tragedi, melodrama, dan tragi-komedi.[15]

Perbedaan sastra imajinatif dan non imajinatif

Sastra imajinatif cenderung khayali yaitu lebih bersifat rekaan. Sedangkan sastra non imajinatif cenderung mengemukakan fakta. Dalam penggunaan bahasa, sastra imajinatif lebih menekankan penggunaan bahasa dalam artinya yang konotatif dibandingkan dengan sastra non imajinatif yang lebih menekankan penggunaan bahasa dalam artinya yang denotatif. Namun keduanya memenuhi syarat-syarat estetika seni.[16]

Prosa/ fiksi[17]

Prosa dalam pengertian fiksi berarti cerita rekaan atau cerita khayalan. Menurut Abrams, fiksi merupakan karya naratif yang isinya bukan sebuah kebenaran sejarah. Karya fiksi merupakan suatu karya yang menceritakan sesuatu yang bersifat rekaan, khayalan, sesuatu yang tidak realistis, artinya tidak ada dan terjadi sungguh-sungguh sehingga tidak perlu dicari kebenarannya pada dunia nyata. Tokoh, peristiwa, dan tempat yang disebut dalam fiksi adalah tokoh, peristiwa, dan tempat yang bersifat imajinatif. Menurut Altenbernd dan Lewis, fiksi merupakan prosa naratif yang bersifat imajinatif, namun biasanya masuk akal dan mengandung kebenaran yang mendramatisasikan hubungan-hubungan antarmanusia.

Fiksi menceritakan berbagai permasalahan manusia dan kemanusiaan, hidup dan kehidupan, masalah kehidupan manusia dalam interaksinya dengan lingkungan dan sesama, interaksinya dengan diri sendiri, serta interaksinya dengan tuhan. Fiksi merupakan hasil dialog, kontemplasi, dan reaksi pengarang terhadap lingkungan dan kehidupan.

[1] Jan Van Luxemburg, dkk, Pengantar Ilmu Sastra, (Jakarta: Gramedia, 1984), hal. 2.

[2] Pertampilan S. Brahmana, “Sastra Sebagai Sebuah Disiplin Ilmu”, Jurnal Ilmiah Bahasa dan Sastra, IV, 2, (Oktober, 2008), hal.119.

[3] Jakob Sumardjo dan Saini K.M., Apresiasi Kesusastraan, (Jakarta: Gramedia, 1986), hal. 8-9.

[4] Ibid., hal. 5.

[5] Ibid., hal. 13-14.

[6] Ibid., hal. 10-12.

[7] A. Teeuw, Sastra dan Ilmu Sastra, (Jakarta: Dunia Pustaka Jaya, 1984), hal. 20-21.

[8] Heri Jauhari, Cara Memahami Nilai Religius dalam Karya Sastra dengan Pendekatan Reader’s Response, (Bandung: Arfino Raya, 2010), hal. 3.

[9] Jakob Sumardjo dan Saini K.M., Op. Cit., hal. 3.

[10] Hasan Alwi, Buku Praktis Bahasa Indonesia, ( Jakarta : Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional ), 2003, hlm 159.

[11] Atar Semi, Kritik Sastra, (Bandung : Angkasa Bandung, 1989), hlm 39.

[12] Jakob Sumardjo dan Saini K.M. Op. Cit., hal. 1.

[13] Ibid., hal. 19.

[14] Ibid., hal. 17.

[15] Ibid., hal. 18.

[16] Ibid., hal. 19.

[17] Burhan Nurgiyantoro, Teori Pengkajian Fiksi, (Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 1995), hal. 2-3.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s